Manusia itu mudah salah paham
Apa apa terlalu cepat dipahami
Apa apa terlalu cepat dicerna hati
Mengeluarkannya mudah sekali
Semalam sandal Pak Bandri hilang
Pusing mencari bukan kepalang
Waktu ketemu bukain main girang
Mewartakannya "Malaikat Tuhan datang!"
Padahal dipinjam Bu Bandri habis dari warung padang
Salah paham bukan melulu soal bertengkar hingga terpecah
Tapi memahami segala hal dengan kesimpulan yang gegabah
Lalu melebih-lebihkan hingga salah
Atau mengurang-ngurangkan hingga lelah
Ada doa yang dikabulkan dalam sehari
Ada permohonan yang ditunggu hingga tahun berganti
Yang satu merasa dirinya amat diberkati
Yang satu jadinya iri hati
Padahal, oh padahal
Rahmat Ilahi jauh melampaui segala akal
Kalau cuma perkara sandal
Jangan dianggap karena banyak beramal
Iman kita hanya Tuhan yang tahu
Pun berkatnya tidak dapat diatur waktu
Jangan khawatir akan kasih-Nya
Tinggal bagaimana kita memandangnya
Mari kita berefleksi
Betulkah perbuatan hidup kita berakar kasih sejati
Atau hanya agar terkesan hidup suci
Tapi pun tidak perlu takut
Tangan-Nya menuntun bukan menuntut
Gembala penenang ditengah dunia yang kalut
Jangan bimbang
Manusia bisa saja goyang
Namun menerima diri yang kurang
Adalah bagian dari peziarahan menuju pemberhentian yang akan datang
Refleksi singkat:
Melalui puisi ini saya pribadi diingatkan bahwa jangan sampai didalam keseharian hidup, kita menurunkan kekuatan Ilahi yang luar biasa kedalam hal-hal takaran manusia. Manusia itu kompleks dan seru untuk diperhatikan, ada yang apa-apa diceritakan, ada yang tidak mudah bercerita. Eits, "TIDAK SALAH" untuk bersyukur dalam setiap waktu, hal kecil apalagi besar, contohnya ketika mungkin kita terpilih atas suatu jabatan. Beberapa dari kita akan merasa hal ini pantas saya peroleh karena saya telah banyak berdoa dan menolong sesama. LOH, DIMANA SALAHNYA? Salahnya terletak pada cara pandang kita. Santo Agustinus berkata bahwa hal baik memiliki 3 dimensi, "motivasinya baik, prosesnya baik, dan hasilnya baik". Jika dengan perolehan berkat kita menyadari kita bisa naik level, dan menjadi lebih dekat pada Tuhan karena kita tahu bahwa setiap hal tidak akan bisa kita lakukan sendiri, kita telah menanamkan motivasi yang benar, melakukannya dengan benar, dan berbuah kebaikan dan "kedekatan" yang dapat diceritakan sebagai refleksi hidup. Namun jika hal itu menjadikan kita bermotivasi "agar dipandang sebagai orang yang diberkati" hal tersebut akan menurunkan psikis orang lain yang bisa jadi merasa dirinya tidak diberkati. Padahal, karunia Tuhan berbeda bagi setiap pribadi, dan hal itu mampu menyempitkan pandangan kita terhadap kasih dan rahmat yang luar biasa, yang bukan hanya dapat dibandingkan dari satu sisi. Jadi... bersyukur itu harus, tapi jangan sampai cepat-cepat ambil kesimpulan, dan bukan berarti segala hal sepele perlu dibesar-besarkan, "takutnya" kalau bahasa bercandanya "kadung senengnya mewartakan kisah kasih Allah dalam hidupnya", jadinya dipandang "Wah, bukan masalah Malaikat mengembalikan sandalnya, beliaunya aja yang pikun".
Berkah dalem!
Comments
Post a Comment